Ads 468x60px

Pages

20 Januari 2011

Jangka Ronggowarsito



Membicarakan Ronggowarsito identik dengan membicarakan jaman kalabendu. Istilah kalabendu sebenarnya bukan murni berasal dari Ronggowarsito, tetapi bersumber dari jangka Prabu Joyoboyo yang sudah ada sebelumnya. Kalabendhu berasal dari kata kala (jaman) dan bendu (petaka, bencana), yang berarti suatu jaman yang penuh dengan kesulitan, bencana atau petaka. Istilah kalabendhu sudah populer di kalangan masyarakat Jawa semenjak ratusan tahun sebelum kelahiran Ronggowarsito.

Banyak pendapat yang berkembang di masyarakat tentang kapan waktu berlangsungnya jaman kalabendu. Ada yang berpendapat kalabendu terjadi saat Ronggowarsito masih hidup dan berakhir pada tahun 1945. Bukti empirik dari pendapat tersebut adalah lahirnya negara baru Republik Indonesia, yang secara kebetulan diproklamasikan pada tahun 1945. Semenjak tahun ini tanah Jawa sudah terbebas dari penguasaan kolonial, hal ini dijadikan alasan bahwa kalabendu sudah berakhir dan berganti dengan jaman yang penuh dengan kemakmuran.

Melalui posting ini saya berpendapat bahwa tahun 1945 bukanlah akhir dari jaman kalabendu, tetapi tahun 1945 adalah tahap permulaan jaman kalabendu, dan akan terus bergulir sampai kurun waktu seratus tahun berikutnya. Dengan kata lain saat ini (tahun 2010) adalah masa-masa yang berada di sekitar titik kulminasi jaman kalabendu. Ronggowarsito tidak hidup di jaman kalabendu, sebab beliau menegaskan bahwa “kelak” akan datang masa yang penuh dengan kesulitan, artinya jaman yang menyeramkan tersebut belum terjadi saat beliau menyampaikan pendapatnya.

Berdasarkan penjelasan Ronggowarsito yang ditulis dalam Serat Jaka Lodhang, datangnya jaman kalabendu akan ditandai dengan runtuhnya kekuasaan raja Jawa (kraton Surakarta dan Yogyakarta) dan digantikan kekuasaan yang berasal dari rakyat jelata. ”Jaka Lodhang gumandhul // aneng ngepang ngethengkrang sru muwus // eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi // gunung mendhak jurang mbrenjul // ingusir praja prang kasor” . Gunung adalah gambaran raja Jawa dan pemerintah Hindia Belanda, sedangkan jurang adalah gambaran rakyat jelata. Seiring dengan perputaran nasib kedua sentral penguasa Jawa tersebut akan terusir dari praja (negara) karena mereka dikalahkan dalam peperangan.

Meskipun raja Jawa berusaha dengan segala upaya tetapi arus perubahan politik tidak dapat dicegah. Pada akhirnya dinasti Mataram harus menyaksikan kraton yang didirikan Panembahan Senopati runtuh. Tanah Jawa masuk pada tataran politik baru yang sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya, di mana kekuasaan bukan di tangan raja, tetapi kekuasaan menjadi milik rakyat. Pergolakan politik yang sangat dahsyat tersebut terjadi pada tahun 1945.